Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Kisah Tiongkok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tiongkok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (4 TAMAT)


Mengapa Yan Zi menolak hadiah dari raja?

Raja Qi Jing mengutus Yan Zi untuk mengatur wilayah Donge. Tak disangka, tiga tahun kemudian nama Yan Zi banyak dipergunjingkan orang diseluruh kerajaan.

Ketika Raja Qi mendengar reputasi miring mengenai Yan Zi, dia sangat tidak suka. Kemudian dia memangil Yan Zi ke istana dan menegurnya, “Saya mengira Anda sungguh cakap, dan seharusnya tidak ada masalah saat mengatur Donge. Itulah sebabnya mengapa saya mengutus Anda. Sekarang saya mendengar Donge sangat kacau. Anda pulang ke rumah dan pikirkan masalah ini. Saya akan memberi hukuman berat pada Anda.” Raja Qi hendak memecat Yan Zi.

Yan Zi menyadari dia telah mengecewakan hati raja, namun dia tidak mengatakan sebuah alasan pun, hanya meminta maaf. “Saya tahu kesalahan saya, Yang Mulia. Mohon berikan saya satu kali lagi kesempatan. Tiga tahun dari sekarang, reputasi bagus saya akan menyebar ke seluruh negeri. Jika saya gagal, saya akan membayarnya dengan nyawa saya.”

Ketika Raja Qi mendengarnya, ia merasa tidak ada salahnya memberikan Yan Zi satu kali kesempatan. Akhirnya, Yan Zi kembali ke Donge.

Tiga tahun kemudian, seperti yang diperkirakan Yan Zi, semua orang memujinya. Ketika Yan Zi menghadap raja dengan membawa setumpuk upeti, Raja Qi sangat bergembira. Secara pribadi dia menyambut dan mengucapkan selamat pada Yan Zi atas keberhasilannya.

Raja Qi memuji kecakapan Yan Zi. Ketika Raja Qi ingin memberikan hadiah padanya, Yan Zi menolak dengan halus.

Raja Qi sangat terkejut dan bertanya alasannya. Yan Zi berkata, “Tiga tahun pertama saya bertugas di Donge, saya memperluas perdagangan dan membangun jalan. Saya sangat ketat mematuhi aturan dan memerangi pencurian, sehingga para penjahat tidak menyukai saya. Saya bekerja keras dan hidup hemat, sehingga orang-orang malas tidak menyukai saya. Saya cukup adil melihat masalah sehingga banyak bangsawan tidak menyukainya, begitu juga para orang kaya dan penguasa. Saya tidak mencoba menyenangkan hati setiap orang yang ada disekitar saya, sehingga membuat orang-orang ini juga tidak menyukai saya. Ketika saya bertransaksi dengan pejabat tinggi, saya mengikuti aturan yang berlaku, sehingga banyak pejabat yang tidak menyukai saya.”

“Sebagai hasilnya, para penjahat, orang malas dan bangsawan tidak menyukai saya. Mereka merusak reputasi saya diluar istana. Orang-orang yang bekerja dengan saya, juga para penguasa, merusak reputasi saya di istana. Jadi, setelah tiga tahun saya menjadi sangat terkenal dengan reputasi buruk di dalam istana, dan bahkan Yang Mulia telah mengetahuinya. Oleh karena itu saya mengubah cara lama saya.”

“Saya lebih berhati-hati mengaturnya. Saya tidak lagi membangun jalan dan mendorong perdagangan. Saya tidak lagi memberikan penghargaan kepada orang atas usaha keras dan hidup sederhananya. Saya berhenti menghukum pencuri ataupun pelaku kesalahan. Ketika melihat permasalahan, saya menghormati pendapat penguasa dan orang kaya. Kemudian para penjahat, pencuri dan bangsawan semuanya gembira, mereka memuji saya. Orang yang bekerja dengan saya pun juga gembira karena saya mengabulkan keinginan mereka dan menerima suap. Saya memungut pajak lebih banyak dan menyanjung orang-orang di sekitar Anda.”

“Sekarang setiap orang memuji prestasi saya.”
“Dulu, saya berusaha semaksimal mungkin membantu orang miskin, sehingga tidak satu pun yang kelaparan. Sekarang, orang berkuasa di Donge memiliki banyak simpanan, dan lebih banyak rakyat kecil kelaparan. Apa yang saya lakukan pada tiga tahun pertama lah yang seharusnya di beri penghargaan, akan tetapi Yang Mulia malah tidak berkenan dan ingin menjatuhkan hukuman berat pada saya. Sekarang saya telah berbuat kejahatan pada negara ini, namun Yang Mulia malah menerimanya secara khusus dan memujinya. Saya hanya terlalu lambat untuk menyadari seluruh masalah ini. Saya ingin meninggalkan posisi saya dan membiarkan seseorang yang lebih berbakat menjabatnya. Jadi bagaimana bisa saya menerima hadiah dari Yang Mulia!”
Kemudian Yan Zi dengan hormat berpamitan pada raja, dan bersiap-siap untuk pergi.

Raja Qi tersadar dan segera berdiri, “Tolong Anda lakukan yang terbaik untuk Donge. Itu hak Anda. Saya tidak akan pernah ikut campur tangan lagi.”

Raja Qi kemudian menyadari bagaimana bijaknya Yan Zi, dan kemudian mengangkatnya sebagai perdana menteri.

RENUNGAN :
Disini dapat kita lihat ketika Yan Zi melakukan pekerjaannya dengan baik dia malah ditegur. Yan Zi berada dalam masalah besar, namun dia tidak mengemukakan satu alasan pun. Dia hanya dengan tenang mundur dan mengakui kesalahannya. Kemudian dia berbalik dan menggunakan metode yang berbeda untuk memecahkan kesalah pahaman dan membantu raja memahami dari perspektif lain.

Penolakan Yan Zi untuk mengikuti arus dan ketulusannya dalam melayani sangat menggerakkan hati orang. Kebijakannya, bakat kecakapannya serta kesetiaannya sungguh mengagumkan!

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (3)


Sepatu yang murah dan Yong yang mahal

Ketika Raja Qi memerintah kerajaan, banyak terjadi praktik hukuman kejam. Untuk satu kejahatan kecil, seseorang dapat kehilangan kakinya. Yan Zi berusaha berkali-kali memohon kepada raja untuk menghapus cara brutal ini, namun tidak berhasil.

Suatu hari Raja Qi ingin menunjukkan perhatiannya terhadap tempat tinggal Yan Zi. Dia merasa bahwa rumah Yan Zi terlalu kecil dan bising, ia ingin memberikan Yan Zi tempat tinggal yang lebih besar.

Namun Yan Zi dengan sopan menolaknya, “Saya terikat dengan tempat ini, karena leluhur saya tinggal di sini sebelumnya. Kedua, rumah ini berada di dekat pasar, saya dapat dengan mudah memantau jalannya perdagangan. Selain itu, sangat mudah untuk membeli sesuatu.” Raja memuji Yan Zi dan bertanya, “Apakah Anda tahu barang apa yang murah dan apa yang mahal di pasar saat ini?”

Yan Zi menangkap sebuah peluang dan berkata, “Tentu saja, saya tahu. Harga sepatu orang normal sangat murah, dan harga Yong, sepatu untuk orang yang berkaki tunggal, sangat mahal.”

Raja Qi tidak memahami jawaban Yan Zi, “Mengapa begitu?”
“Karena begitu banyak orang yang melakukan kejahatan pada berbagai tingkat kejahatan, semuanya berakhir dengan kehilangan satu kaki, sepatu yang normal tidak lagi berharga bagi mereka. Yong lebih bermanfaat.”

Setelah mendengar itu, Raja Qi merasa sangat tidak nyaman dan kemudian memperingan hukuman.

Memutilasi seorang kriminal

Suatu ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap Raja Qi, sehingga membuatnya jadi sangat murka dan memerintahkan pelanggar itu untuk diikat dan dimutilasi. Raja Qi bahkan mengumumkan siapa pun yang berani mencegahnya juga akan dibunuh.

Yan Zi datang ke tempat kejadian dan menjambak rambut pesakitan itu dengan satu tangan, dan tangan satunya lagi memegang sebilah pisau. Yan Zi mengenal baik bahwa leluhur kaisar pendiri kerajaan tidak pernah menggunakan cara keji untuk menghukum orang. Lalu Yan Zi mengangkat kepalanya dan bertanya pada Raja Qi, “Di zaman dulu, bagian tubuh mana yang dipotong lebih dahulu oleh para leluhur kaisar?”

Seketika itu Raja Qi segera bangkit dari duduknya dan berkata, “Lupakan, dan biarkan dia pergi. Ini kesalahan saya.”

RENUNGAN :
Bijaksanalah dalam mengambil tindakan.

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (2)


1. Raja Qi berhenti mabuk
Qi Jing Kong, raja Kerajaan Qi, sangat gemar mabuk-mabukan dan melakukannya hampir setiap hari. Seorang menteri berusaha berbicara terus terang kepada raja, “Yang Mulia, Anda telah bermabuk-mabukan selama tujuh hari berturut-turut. Mohon utamakan kepentingan negara dan berhentilah minum. Jika tidak, bunuhlah saya.”

Ketika Menteri Yan Zi menemui Raja Qi, sang raja mulai berkeluh kesah, “Xuan Chang menginginkan saya berhenti mabuk, atau menjatuhkan hukuman mati padanya. Jika saya mendengarkannya, saya tidak akan pernah merasakan anggur lagi. Jika saya tidak menghiraukannya, dia ingin saya membunuhnya. Apa yang harus saya lakukan?”

Yan Zi berkata, “Sungguh beruntung dia dapat mengabdi kepada raja yang bermurah hati seperti Anda! Jika dia melayani seorang raja seperti Jie ataupun Zhou, yang keduanya dikenal sebagai tiran, dia akan kehilangan nyawanya jauh-jauh hari.”
Setelah mendengar perkataan Yan Zi, Raja Qi berhenti mabuk-mabukan.

2. Anjing Raja Qi
Ketika anjing Raja Qi Jing Gong mati, dia memerintahkan membuat peti mati khusus dan upacara pemakaman yang megah.
Begitu Menteri Yan Zi mendengarnya, dia bertanya pada raja untuk mempertimbangkannya kembali.

Raja Qi berkata, “Tetapi ini hanyalah sekedar kegembiraan.”
Yan Zi menjawab, “Yang Mulia, ini tidak benar. Ketika Anda meminta rakyat membayar pajak, Anda tidak mengembalikan kepada mereka, malah menggunakannya untuk menyenangkan orang-orang di sekitar Anda. Apa yang kami harapkan dari negara ini? Ada rakyat yang miskin, lemah dan orang tua yang mati kedinginan, namun seekor anjing malah memperoleh kehormatan upacara pemakaman. Tidak satu pun yang peduli ketika orang miskin meninggal, namun seekor anjing mati mendapatkan peti mati dan upacara pemakaman yang mewah.

Disaat rakyat mengetahui perilaku Anda, mereka akan memprotesnya. Ketika negara tetangga mendengarnya, mereka akan memandang rendah kita. Yang Mulia, Anda harus memperhatikan hal ini secara serius.”

Akhirnya Raja Qi mendengarkan nasehat Yan Zi, dan membatalkan upacara pemakaman tersebut.

3. Burung Raja Qi
Raja Qi memiliki kegemaran menangkap burung dan memeliharanya. Suatu hari seorang pekerja yang merawat burung, Zhu Zou tidak sengaja melepaskan seekor burung.

Raja Qi sangat murka mendengarnya dan menjatuhkan hukuman mati kepada Zhu Zou. Yan Zi berkata, “Zhu Zou telah melakukan tiga tindak kejahatan. Bagaimana jika Anda membiarkan saya mengatakan padanya, sehingga dia bisa meninggal dengan tenang?”

Raja Qi sangat gembira mendengarnya dan berkata, “Ya.” Ketika Zhu Zou masuk ke ruangan raja, Yan Zi berkata pada Zhu Zou dengan serius, “Anda telah melakukan tiga kejahatan, apakah Anda mengetahuinya?
Pertama, Anda seharusnya merawat dengan baik burung-burung milik raja, namun Anda malah membiarkannya lepas.
Kedua, raja kita harus membunuhmu demi seekor burung.
Ketiga, ketika berita ini tersebar keluar, setiap orang akan mengetahui bahwa raja kita lebih memedulikan burung daripada rakyatnya.
Anda telah menodai reputasi baik raja. Anda memang pantas mati ribuan kali.”

Setelah mendengarnya, Yan Zi meminta Raja Qi segera membunuh Zhu Zou. Namun Raja Qi berkata, “Tidak, jangan bunuh dia. Saya telah cukup mendapatkan pelajaran dari kalian.”

RENUNGAN :
Pikirkan matang-matang dalam melakukan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum menjalankan atau memvonis suatu masalah yang belum dipelajari lebih dalam yang sesudahnya menyesal kemudian.

Kamis, 29 Agustus 2013

KISAH KEBAJIKAN YAN ZI DE GU SHI (1)


Pada masa Chun Qiu, kerajaan Qi memiliki seorang perdana menteri yang bernama Yan Zi. Yan Zi sangat pandai berbicara & cerdik. Yan zi mempunya tinggi badan kurang dari 1,5 meter dan berwajah pucat, namun dia dikenal sebagai pejabat yang adil dan baik terhadap rakyat. Dia hidup sangat sederhana dan hemat. Sebagai seorang menteri istana, ia sering memberi nasehat apa adanya apabila raja melakukan sesuatu hal yang tidak pantas.
Melakukan hal itu harus membutuhkan keberanian yang luar biasa, karena nyawa sebagai taruhannya apabila menyinggung raja. Namun, Yan Zi seorang yang cerdas dan terampil sehingga ia bisa mencapai tujuannya.

Sima Qian, sejarahwan besar Tiongkok kuno, pemikir dan penulis, menyebut Yan Zi sebagai diplomat paling handal. Yan Zi menjabat selama masa pemerintahan 3 raja dari Kerajaan Qi. Dia seorang jenius yang langka, sehingga membuat Kerajaan Qi kuat dan makmur selama masa tersebut.

Suatu ketika raja Qi memerintankan Yan Zi untuk mengunjungi kerajaan Chu. Raja Chu ingin mempermalukannya. Raja bertanya kepada Yan Zi, “Apakah tidak ada orang lain di ibukota? Mengapa mengirim Anda?” Yan Zi menjawab, “Oh iya, di ibukota jika semua orang mengangkat lengan bajunya, mereka dapat menghalangi sinar matahari, karena ada 8.000 jiwa di sana.”

Raja menambahkan, “Tapi mengapa orang pendek seperti Anda berani datang ke Negara Chu?”

Yan Zi Menjawab, “Yang Mulia, sistem pemerintahan tiap negara berbeda dengan yang lainnya. Raja Qi mengirimkan seorang utusan cerdas untuk seorang raja yang cerdas, dan utusan yang bodoh untuk seorang raja bodoh. Saya seorang yang berkemampuan, jadi saya datang ke Negara Chu.”

Pada kesempatan berbeda, ketika Yan Zi pergi ke Negara Chu, Raja Chu dan semua menterinya berencana untuk menghinanya.

Raja Chu mengetahui postur tubuh Yan Zi yang tidak pada umumnya. Ketika rombongan Yan Zi tiba di depan gerbang ibu kota, penjaga membukakan pintu kecil untuknya. Yan Zi sangat jelas apa yang ada dalam pikiran raja. Lantas dia mengatakan pada penjaga, “Tolong tanyakan pada raja, negara macam apa ini. Jika saya seorang utusan untuk negara anjing, saya akan lewat melalui pintu kecil ini. Apabila tidak, saya akan berjalan melalui pintu biasa.”

Setelah raja mendengar pesan Yan Zi, ia tidak mempunyai pilihan selain mempersilakan Yan Zi masuk melalui pintu biasa.
Di tengah-tengah perjamuan makan, tiba-tiba penjaga membawa masuk seorang pria yang diborgol. Raja Chu bertanya, “Siapa orang ini dan mengapa ia berada di sini?”
Penjaga berkata, “Dia pencuri dan datang dari Negara Qi.” Raja menoleh dan bertanya pada Yan Zi, “Apakah rakyat Qi suka mencuri?”

Yan Zi bangkit dari kursinya, dan berjalan ke hadapan raja. Dia lalu berkata, “Saya mendengar bahwa pohon jeruk dari selatan Sungai Huai akan menghasilkan jeruk, tetapi jika mereka tumbuh di sebelah utara Sungai Huai mereka akan menghasilkan Zhi. Daun jeruk dan Zhi mirip, tapi rasa buah mereka sangat berbeda. Mengapa demikian? Hal ini karena mereka tumbuh di tanah yang berbeda. Sekarang apa bedanya dengan orang Qi ini. Ketika ia tinggal di Negara Qi, dia tidak pernah mencuri. Setelah pindah ke Negara Chu, ia telah menjadi seorang pencuri. Apakah Yang Mulia pikir itu dikarenakan air dan tanah Chu yang membuatnya berubah?”

Setelah mendengar itu, dengan perasaan malu Raja Chu berkata, “Orang tidak boleh mengolok-olok orang yang berbudi luhur. Saya telah mempermalukan diri sendiri.”

RENUNGAN :
Pesan kisah diatas adalah Jangan memandang rendah bagi setiap orang, karena hidup kita selalu berubah-ubah kadang ada yang sukses kadang ada yang terpuruk juga.(ada yang diatas ada yang dibawah).

Selasa, 23 Juli 2013

KISAH PEJABAT LU XIANGXIAN : ORANG YANG SERING MENCIPTAKAN MASALAH BAGI DIRINYA SENDIRI.


Ada sebuah ungkapan Tiongkok, " Rata-rata orang menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri,” yang menggambarkan bagaimana orang-orang biasa tidak mempunyai hal yang lebih penting dari pada menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri.

Di New Tang Book, Lu Xiangxiang’s Biography. "Dunia itu penuh kedamaian, tetapi, rata-rata orang menyebabkan kesulitan bagi dunianya sendiri."

Sejak pemerintahan kaisar Ruizong di masa Dinasti Tang (18 Juni 618 – 4 Juni 907), ada seorang pejabat di lingkungan istana bernama Lu Xiangxian ( 陸象先) (665–736).

Dia adalah orang baik, toleran, berpengetahuan luas, dan mampu serta berani menasihati kaisar secara jujur. Kaisar hormat kepadanya. Tetapi, suatu saat dia membuat marah kaisar dan karenanya ia dimutasi menjadi gubernur kota Yizhou.

Setelah Lu Xiangxian menempati jabatan barunya, dia sangat murah hati dan baik pada orang setempat. Bahkan ketika dihadapkan padanya para penjahat, dia jarang sekali menghukum mereka dengan penyiksaan. Malahan dia mencoba membujuk mereka untuk melakukan kebaikan dengan mengajarkan prinsip-prinsip moral. Asisten Lu bercerita kepada Lu.

“Orang-orang setempat sulit diatur, dan Anda harus menghukum mereka dengan hukuman yang lebih berat untuk mengukuhkan dominasi Anda. Atau sebaliknya, tidak ada orang yang menghormati Anda,”kata Asistennya itu.

Lu Xiangxian menggelengkan kepalanya dan berkata kepadanya “Orang-orang setempat seharusnya diperintah dengan mengajarkan mereka prinsip-prinsip moral. Dengan cara ini, masyarakat akan stabil dan orang-orang akan menikmati kehidupan yang baik dan makmur. Selanjutnya, orang-orang akan mengikuti Anda. Mengapa kita perlu menggunakan hukuman untuk memperoleh penghormatan dari mereka?” jawab Lu.

Setelah itu, Lu Xianxian memerintah kota Yizhou dengan gayanya sendiri. Suatu saat seorang pejabat berpangkat rendah melanggar hukum. Lu menegur dia dan menasehatinya untuk tidak melakukannya lagi, tetapi salah seorang bawahannya berpikir bahwa hukuman bagi pejabat rendah itu sudah sangat jelas yaitu harus dipukul dengan tongkat. Lu Xianxian dengan serius berkata kepada bawahannya.

"Semua manusia mempunyai perasaan dan emosi. Saya telah menegurnya mengapa dia melanggar hukum. Karena ia adalah anak buahmu, ketika ia berbuat kejahatan, apakah Anda mau bertanggung jawab? Jika saya perlu menghukumnya, tidakkah seharusnya saya memulai dari Anda,” ujar Lu. Setelah ia mendengar kata-kata Lu, bawahannya ini merasa malu dan pergi.

Lu Xiangxian memerintah kota Yizhou dengan sangat baik. Orang-orang setempat menjadi baik dan hidup dengan tentram, sementara pemerintah setempat sangat respek dengan Lu. Lu sering bercerita kepada bawahannya, bahwa dunia ini sebenarnya penuh kedamaian dan tidak banyak hal penting yang terjadi.

Tetapi beberapa orang awam kurang pengetahuan dan menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri. Walhasil, sebuah isu yang bisa diselesaikan dengan mudah berubah menjadi masalah besar. "Saya pikir, sekali kita memecahkan masalah ini secara fundamental, akan hanya ada sedikit masalah di kemudian hari,” katanya.

RENUNGAN:
Orang-orang sering telah melupakan kisah yang diceritakan kepada kita. Carilah sebab musababnya dari kaca mata moral. Sebaliknya, untuk mencegah hal buruk terjadi, segala macam hukum dan aturan dibuat. Strategi ini secara nyata bertolak belakang dengan apa yang direkomendasikan oleh Lu Xiangxian.

Sabtu, 20 Juli 2013

KISAH GAO FENGHAN MEMBANTU PENGEMIS


Gao Fenghan ( 高凤翰 1683-1748 SM) adalah seorang seniman terkenal pada Dinasti Qing, banyak lukisan pada dinasti Qing adalah hasil karyanya.

Pada suatu hari, ketika Gao Fenghan sedang dalam perjalanan diabertemu dengan seorang pengemis tua yang buta, yang memegang sebuah mangkuk sedang mengemis di jalanan, terlihat sangat menyedihkan.

Melihat hal tersebut didalam hati Gao Fenghan timbul rasa kasihan dan melihat mangkok di tangan pengemis sangat bagus, lalu dia membawa pengemis tersebut pulang kerumahnya, mengundang pengemis tersebut makan.

Setelah pengemis tersebut selesai makan, Gao Fenghan lalu mencuci bersih mangkok makanan pengemis, serta menggunakan pedangnya menulis sebaris kata di mangkok tersebut. “Langit kelabu gelap, jalan di depan samar-samar, langkah kaki tidak bebas berkelana di dunia, susah mendapatkan semangkok nasi cuma-cuma.” Lalu dibawahnya dibubuhi tanda tangannya.

Baris puisi sang penyair ini sangat puitis, ukirannya pedangnya sangat halus, ditambah dengan nama terkenal dari Gao Fenghan saat itu, oleh sebab itu pengemis ini membawa mangkok ini mengemis kemanapun, semua orang dengan berebutan mengundang dia makan, demi untuk menikmati karya Gao Fenghan yang terkenal.

Mulai saat itu pengemis tersebut tidak kekurangan makanan, setiap hari dia dapat makan dengan kenyang. Dan pada saat pengemis tersebut meninggal, berkat dari menjual mangkoknya itu sehingga bisa mempunyai uang untuk mengurus pengebumiannya.

Tidak berapa lama setelah pengemis tersebut meninggal, pada suatu malam, Gao Fenghan bermimpi pengemis ini berkunjung kerumahnya untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikannya, kebetulan pada malam tersebut pembantu di rumah Gao Fenghan melahirkan seorang putra. Gao Fenghan menyadari bahwa anak tersebut adalah reinkarnasi dari pengemis tersebut.

Lalu dia memberi nama kepada anak lelaki tersebut Piau Er. Setelah Piau Er besar dia menjadi pelayan dirumah Gao Fenghan, dengan sangat telaten melayani Gao Fenghan melebihi pembantu yang lain. Setelah Gao Fenghan tua, sakit dan tidak bisa berjalan dengan normal, Piau Er dengan telaten melayani serta memapahnya berjalan, siang malam berjaga di sampingnya.

Orang yang mengetahui hal tersebut berkata, “Gao Fenghan berbuat baik mendapat balasan baik, karena kebaikan hatinya menolong pengemis pada masa mudanya, sehingga di hari tua ada orang yang melayani dia dengan setia.

Selasa, 02 Juli 2013

KISAH ANUGRAH DAN PETAKA (KISAH SINGKAT)


Pada masa pemerintahan Dinasti SONG, terdapatlah seseorang yang amat gemar melakukan kebajikan, bahkan hingga tiga tingkat keturunannya.

Suatu hari, sapi hitam piaraannya melahirkan seekor anak sapi putih. lalu dia bertanya kepada Sang Guru Suci tentang kejadian hari ini. Sang Guru Suci berkata:"Ini pertanda baik! sebaiknya dipersembahkan kepada tuhan."

Tak tahunya setelah lewat setahun, si ayah menjadi tunanetra. tak lama kemudian lahir lagi seekor sapi putih. dia mengutus anaknya pergi menemui Sang Guru Suci, tapi anaknya berkata: "dulu, ayah menjadi buta setelah bertanya kepada beliau. sekarang, untuk apa lagi kita pergi?"

"Ucapan Sang Guru Suci sulit dicerna pada awalnya, tapi akan berakhir dengan kebenaran. apalagi soal anugerah atau kemalangan yang sangat jelas diketahui oleh Beliau. cepatlah kamu pergi bertanya!" ujar sang ayah.

Si anak segera pergi menanyai Sang Guru Suci."Ini alamat baik!" jawab Sang Guru ketika ditanya. kembali lagi Sang Guru Suci menyarankan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. sepulangnya, si anak memberitahukan ayahnya, lalu sang ayah berkata:"Turuti saja apa yang dikatakan oleh Sang Guru."

Kira-kira setahun kemudian, anaknya juga buta tanpa sebab. berselang beberapa lama kemudian, negara CHU menyerang ibukota negara SONG. para serdadu yang terkepung kehabisan ransum yang akhirnya memakan anak sendiri dengan buas. karena kehabisan kayu bakar, tulang manusia dijadikan sebagai bara. seluruh pemuda yang sehat dikerahkan menjadi pasukan perang. banyak diantara mereka gugur. tinggal ayah beranak yang buta itu terhindar dari musibah peperangan. setelah perang usai, kedua ayah beranak itu dapat melihat kembali.

RENUNGAN:
Kemalangan ada kalanya hadir bersama anugerah." sebuah kemalangan yang ditakuti manusia, bisa saja membawa anugerah di kemudian. sebaliknya, anugerah yang berlimpah, bisa saja mengundang hadirnya kemalangan. dalam perkara membina diri, kemalangan atau anugerah yang datang, terimalah dengan lapang dada dimana suatu kemalangan pasti ada hikmah anugerah didalamnya.

Jumat, 17 Mei 2013

KISAH SI KAKEK BODOH YANG MEMINDAHKAN GUNUNG


Alkisah, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar. Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung. Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.

Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung. Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan. Salah seorang pemuda begitu penasaran dan bertanya pada si kakek.

"Kakek dan seluruh keluarga besar setiap hari terlihat begitu sibuk! Dari pagi sampai sore, menggali lereng gunung. Sebenarnya, apa maksud dan tujuan kakek?"

Si kakek menghentikan kerjanya. "Kami menggali untuk memindahkan gunung ini, Nak," jawabnya mantap.

"Hah, memindahkan gunung?? Mana mungkin, Kek?!" tanya si pemuda tidak percaya.

"Gunung sebesar itu kok mau dipindahkan," lanjutnya. "Kakek kan sudah tua. Saya yakin, sebelum gunung bisa dipindahkan, kakek pasti sudah meninggal lebih dulu. Dengan begitu, bukankah kakek mengerjakan sesuatu yang sia-sia belaka?"

Si kakek menjawab dengan lantang, "Kakek memang sudah tua. Tapi bila kakek meninggal, ada anak-anak yang meneruskan, ada cucu-cucu yang akan menggantikan, begitu seterusnya... Selama kami punya tekad, mau bekerja keras, penuh kesungguhan hati, dan konsisten, kakek yakin suatu hari kelak, gunung ini pasti bisa dipindahkan. Dan jalan kehidupan kita semua akan lebih mudah!"

Tekad si kakek dan keluarganya yang begitu kuat, menggoyahkan hati masyarakat sekitar situ. Maka, mereka pun berbondong-bondong bergantian, dengan peralatan yang seadanya, bahu membahu mulai ikut bersama-sama bekerja menggali lereng gunung itu.

Singkat cerita, hati para dewa di khayangan pun akhirnya tergerak ketika melihat tekad si kakek dan semangat warga desa. Kemudian, mereka sepakat membantu sang kakek untuk memindahkan gunung itu. Dan haaap, tangan para dewa sibuk melambai bekerja sama. Dalam sekejap, terjadilah keajaiban! Gunung pun berpindah tempat dan jalan terbentang luas menuju kemana pun masyarakat desa itu hendak pergi.

RENUNGAN:
Di Tiongkok, kisah legenda ini terkenal dengan sebutan "Kisah si Kakek Bodoh Memindahkan Gunung."

Walau cerita itu hanya sekadar legenda, namun pesan moral tentang kekuatan tekad dan kesungguhan hati ini sungguh luar biasa!! Kita tahu, kemajuan peradaban manusia tidak akan seperti sekarang, jika dunia ini tidak dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki tekad seperti kakek tua tadi. Saat ini, tak terhitung jumlah penemuan baru dan teknologi modern sebagai karya-karya spektakuler dari manusia-manusia bertekad baja. Sulit dibayangkan, apa jadinya dunia ini jika tidak ada manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar, tekad membaja, konsistensi, dan persistensi yang luar biasa.

Legenda di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kemajuan pribadi-pribadi, kemajuan masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekad. Tekad merupakan sumber motivasi yang menggerakkan manusia menuju cita-citanya. Tekad merupakan kekayaan sekaligus modal bagi kemajuan dan kemakmuran. Bagi mereka yang memiliki tekad yang sangat kuat, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Nothing is impossible under the sun.

Selama memiliki tekad, kesungguhan hati, keyakinan dan konsistensi, kita akan mampu mewujudkan apa yang kita cita-citakan.

Miliki tekad dan ciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin!

Rabu, 19 Desember 2012

KISAH 4 WANITA TERCANTIK DALAM SEJARAH CHINA (四大美女)



Empat wanita cantik (四大美女sì dà měi nǚ;dibaca she ta mei ni) adalah empat wanita China kuno, yang terkenal karena kecantikannya. empat wanita ini merupakan tokoh-tokoh sejarah asli, tetapi kelangkaan catatan sejarah tentang mereka sehingga banyak dari apa yang dikenal dari mereka saat ini telah dibumbui oleh legenda. Mereka mendapatkan reputasi dari pengaruh mereka yang dilakukan atas raja-raja dan kaisar dalam sejarah China.

Empat wanita cantik hidup di empat dinasti yang berbeda, masing-masing ratusan tahun terpisah. Dalam urutan kronologis, yaitu:

1. Xi Shi (Hanzi: 西施)(560 SM-?) adalah salah satu tokoh dari empat wanita tercantik Tiongkok di penghujung Zaman Musim Semi dan Gugur. Ia dilahirkan di sekitar Kuaiji (會稽), wilayah Zhejiang sekarang dengan nama Shi Yikuang (施夷光).
Ia dipanggil Xi Shi karena ia tinggal di dusun bermarga Shi yang letaknya di sebelah barat dusun tetangga.

Perjalanan Hidup
Diceritakan bahwa Xi Shi tinggal Zhuji, ibukota negara Yue pada zaman musim semi dan musim gugur. Saking cantiknya dia, dikatakan bahwa ikan-ikan juga Menenggelamkan/ menyembunyikan diri karena malu saat dia sedang mencuci pakaiannya di sungai.

Di kala itu negara Yue menjadi bawahan negara Wu dan harus membayar upeti karena kalah perang. Raja negara Yue, Gou Jian, yang pernah juga ditawan karena kalah perang, diam-diam merancang rencana pembalasan dengan siasat wanita cantik. Mentri negara Yue, Fan Li, kemudian mempersembahkan Xi Shi dan Zhen Dang (wanita lain) kepada Fu Chai, raja negara Wu pada tahun 490 SM.

Siasat wanita cantik itu berhasil, Fu Chai melupakan urusan pemerintahan negara dan membunuh penasehatnya sendiri, Wu Zixu yang mengkritik Fu Chai. Fu Chai bahkan menghamburkan sumber daya untuk mendirikan sebuah istana khusus untuk wanita-wanita cantiknya yang semakin memperlemah negara Wu. Tahun 473 SM, raja Gou Jian (negara Yue) menaklukkan tentara negara Wu. Fu Chai raja Wu kemudian bunuh diri.

Setelah Wu takluk, Gou Jian raja Wu memerintahkan Xi Shi untuk ditenggelamkan ke dalam danau agar dia tidak mengalami nasib seperti Fu Chai raja Wu yang mabuk akan kecantikan Xi Shi. (masih diperdebatkan kebenaran fakta ini)

Di kisah lain diceritakan bahwa setelah Wu takluk, Fan Li pensiun dan membawa Xi Shi untuk hidup bersama dirinya. Fan Li kemudian mengganti namanya menjadi Tao Zhu Gong dan menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya.


2. Wang Qiang atau lebih dikenal dengan nama Wang Zhaojun (Hanzi sederhana: 王昭君) adalah satu dari empat wanita cantik Tiongkok. Kecantikannya dikatakan dapat menjatuhkan burung-burung yang sedang terbang. Ia dilahirkan dalam keluarga berada di daerah yang sekarang terletak di kabupaten Xingshan, provinsi Hubei di wilayah selatan kerajaan Han barat. Dalam perjalanannya ke Xiongnu ia pun terkenal memakai jaket bulu sambil memetik alat musik pipa dan menunggang keledai. Gambaran inilah yang identik dengan Wang Zhaojun.

Perjalanan Hidup
Menjadi Selir Kaisar Yuan Pada tahun 38 M, Kaisar Yuandi mengeluarkan maklumat kekaisaran untuk mengundang gadis-gadis cantik dari seluruh negeri ke istana. Dua tahun kemudian, sekitar tahun 40 M, Wang Zhaojun dipanggil masuk harem istana untuk melayani kaisar Yuan (Liu Shi) sebagai selir. Selama di istana, Wang Zhaojun tidak pernah sekalipun dikunjungi (dalam arti melayani/berhubungan seksual) oleh kaisar. Hal ini diceritakan karena kaisar yang memilih selir baru mana yang akan melayaninya dengan cara melihat melalui lukisan oleh seniman Mao Yanshuo.Wang Zhaojun konon tidak bersedia menyuap pelukis istana itu untuk melukisnya dengan cantik, sehingga si pelukis lalu melukisnya dengan jelek. Akibatnya kaisar menyangka bahwa Wang Zhaojun adalah wanita jelek dan tidak memilihnya.

Alat perdamaian Han Barat dengan Xiongnu Timur
Pada zaman ini terjadi konflik berkepanjangan antara kerajaan Han barat dengan suku Xiongnu (terutama Xiongnu barat). Suatu ketika pemimpin Xiongnu timur yang bersekutu dengan Han, Huhanye, datang ketiga kalinya Chang'an dalam rangka kunjungan penghormatan. Huhanye lalu meminta agar dia bisa menjadi menantu kekaisaran. Permintaannya tidak diluluskan, akan tetapi Huhanye diberikan kompensasi berupa selir-selir kaisar (terutama yang tidak dikunjungi kaisar). Wang Zhaojun adalah salah satu di antara mereka yang diberikan kepada Huhanye.

Dituliskan dalam Hou Han Shu, Wang Zhaojun sendiri secara sukarela mengajukan diri untuk dikirim ke Xiongnu karena dia kecewa menunggu. Lalu, kaisar Yuan yang baru pertama kalinya bertemu dengan Wang Zhaojun tertegun akan kecantikannya dan sangat menyesal bahkan sempat mempertimbangkan kembali keputusan untuk memberikan Wang Zhaojun kepada Huhanye. Namun akhirnya kaisar Yuan merelakan Wang Zhaojun demi persekutuan Han dan Xiongnu.

Wang Zhaojun kemudian menjadi selir kesayangan Huhanye dan melahirkan dua pangeran dan satu putri.Setelah Huhanye meninggal, Wang Zhaojun memohon agar dapat kembali ke China daratan, namun permohonannya ditolak kaisar Cheng (Liu Ao). Kaisar Cheng malah memerintahkan agar dia mengikuti tradisi Xiongnu untuk menikah dengan pemimpin Xiongnu berikutnya, putra tertua Huhanye. Dalam pernikahannya yang kedua, dia melahirkan 2 putri. Wang Zhaojun pun membantu Huhanye dalam mengembangkan kerajaan Xiongnu, maka itu orang Xiongnu sangat menghormati Wang Zhaojun.

Dalam legenda , diceritakan setelah permohonannya untuk kembali ke daratan ditolak kaisar Cheng, Wang Zhaojun bunuh diri sebagai upaya untuk menolak menikah lagi dengan anaknya sendiri.
Karena Wang Zhaojun, selama sekitar 60 tahun terbentuk perdamaian antara Han dan Xiongnu. Pemerintah China sekarang mempergunakan Wang Zhaojun sebagai simbol persatuan antara etnis Han dengan etnis minoritas lainnya.


3.Diaochan (Hanzi : 貂蟬), Dikatakan kecantikan Diao Chan dapat membuat awan-awan menutupi bulan purnama. Maksudnya kecantikan Diao Chan menutupi kecantikan bulan purnama.
Diao Chan adalah pelayan Wang Yun yang telah dianggap seperti anak kandung sendiri. Wang Yun lalu memakai siasat wanita cantik dengan persetujuan Diao Chan sendiri untuk memecah belah Dong Zhuo yang saat itu berkuasa sewenang-wenang dengan Lu Bu, panglima andalan sekaligus anak angkat Dong Zhuo sendiri. Secara lengkap,

kisah Diao Chan diceritakan dalam San Guo Yan Yi.
Nama Diao Chan sendiri tidak tercatat di dalam sejarah tertulis dan sangat mungkin merupakan cerita rakyat yang dibakukan dalam novel San Guo Yan Yi hasil karya Luo Guanzhong. Dalam sejarah tertulis memang tercatat bahwa Lu Bu memiliki hubungan perselingkuhan dengan pelayan Dong Zhuo, namun tidak ada bukti bahwa nama pelayan itu Diao Chan. Bahkan sangat mungkin tidak, karena nama Diao tidak umum dipakai sebagai nama keluarga. Lagipula "Diao Chan" mungkin merujuk ke bulu ekor "Diao" / sable (sejenis musang yang bulunya sering dijadikan perlengkapan pakaian) dan dekorasi giok berbentuk "Chan" / cicada (jengkerik / tenggerek) yang merupakan hiasan topi pejabat era Han.

Catatan mengenai Diaochan hanya terdapat di dalam novel Kisah Tiga Negara. Tidak adanya ditemukan catatan mengenai Diaochan di dalam buku sejarah resmi, menyebabkan sejarahwan tetap menganggap Diaochan sebagai tokoh fiksi ciptaan Luo Guanzhong, sang penulis novel tersebut.

4.Yang Yuhuan (楊玉環, 713M-756M), dikenal juga dengan nama Yang Guifei (Hanzi tradisional: 楊貴妃; Hanzi sederhana: 杨贵妃) adalah salah satu dari 4 wanita tercantik dalam sejarah Tiongkok. Konon kecantikannya membuat bunga yang sedang mekar pun menjadi malu.

Ia terkenal akan hubungannya dengan Li Longji (Kaisar Xuanzong dari Tang), yang sebenarnya adalah mertuanya. Ia kemudian menjadi salah satu wanita terkuat di istana selama sejarah Tiongkok, tapi kemudian diesksekusi karena Pemberontakan Anshi yang memprotes kekuasaan keluarga Yang, terutama Yang Guozhong, sepupu Yang Guifei yang juga Perdana Menteri Tang saat itu.

Masa muda Yang Yuhuan berasal dari Huayin, Hongnong. Dia menjadi yatim-piatu pada umur yang terhitung muda. Ia kemudian tinggal bersama pamannya di Henan. Pada bulan sebelas dari tahun ke-22 periode Kaiyuan (734 M) ia dijadikan selir Pangeran Shou, anak dari Kaisar Xuanzong, dari Dinasti Tang.
Yang Yuhuan sendiri pun bukan wanita yang langsing dan ramping. Ia sedikit gemuk tapi konon sangat cantik. Pernah ia membenci Li Bai, seorang penulis puisi terkenal dinasti Tang karena Gao Lishi menghasut bahwa ia membandingkan Yang Guifei dengan Zhao Feiyan, permaisuri Kaisar Cheng dari Dinasti Han yang ramping dan langsing. Bahkan Kaisar Xuanzong pun pernah bergurau "...dengan tubuh seperti milikmu, kau tidak akan terbang tertiup angin bukan?"

Hubungan cinta dengan Kaisar Xuanzong
Setelah enam tahun menjadi istri Pangeran Shou, Yang Yuhuan menarik perhatian ayah Pangeran Shou, Kaisar Xuanzong. Tetapi karena Yang Yuhuan adalah menantunya, sang kaisar tidak bisa menikahinya begitu saja. Pertama ia menyuruh Gao Lishi, kasimnya untuk membawa Yang Yuhuan ke Kuil Taizen di dalam istana dan menjadikannya sebagai biksuni ajaran Tao, lalu memberikan ia gelar Yang Kebenaran Tertinggi, dan menjadikannya sebagai anggota istananya.

Sebagai pengalih perhatian, pada tahun ke-4 periode Tianbao (745 M) Kaisar Xuanzong menunjuk Wei Zhaoxun, putri seorang pejabat tinggi untuk menjadi pasangan resmi Pangeran Shou.
Pada bulan yang sama, kaisar memberi gelar Guifei (Selir Kehormatan) kepada Yang Yuhuan, yang menjadikannya wanita paling favorit di istana, juga menimbulkan kecemasan di antara selir-selir kaisar yang lain. Pada hari penganugrahan gelar ini lagu-lagu dikumandangkan di seluruh istana dan Yang Guifei dianugrahkan jepit rambut emas dan kotak perhiasan yang bertaburkan permata yang dipilih sendiri oleh Kaisar dari ruang perhiasan kerajaan. Begitu tergila-gilanya kaisar sampai-sampai ia terinspirasi untuk menyusun sebuah lagu yang berjudul Kepemilikan Sebuah Permata yang menggambarkan Yang Yuhuan sebagai permata yang berharga yang ia miliki.

Kehidupan Yang Guifei di istana Sebelum kedatangan Yang Guifei ke istananya, Kaisar Xuanzong menyayangi selirnya yang bernama Selir Wu, yang melahirkan baginya seorang putra. Selir Wu sendiri adalah wanita cantik dan tidak terkalahkan di harem istana, tapi umurnya tidak panjang dan ia meninggal pada tahun ke-21 Kaiyuan. Hal ini sempat menjadi hantaman bagi sang kaisar. Kemudian semuanya itu dilupakan ketika sang kaisar menemukan Yang Yuhuan. Biarpun Yang Guifei dipanggil secara resmi dengan sebutan "Selir" tapi ia diperlakukan bagai permaisuri. Saat itu terjadi kekosongan posisi permaisuri di istana, maka tidak ada protes tentang perlakuan istana pada Yang Guifei.

Selain itu pernah suatu ketika Yang Guifei menyinggung perasaan kaisar. Karena marah ia pun dikirim kembali ke keluarganya bersama adik perempuan dan kakaknya Yang Xian. Kaisar pun kehilangan nafsu makan dan enggan melakukan apapun. Gao Lishi kembali meminta izin untuk menjemput, tapi karena malu Yang Guifei menolak. Ratusan kereta berisi makanan, kain sutra dan anggur terbaik dikirimkan pada Yang Guifei. Akhirnya Yang Guifei pun luluh dan kembali ke istana. Ia disambut gegap gempita oleh sang kaisar dan Yang Guifei berjanji tak akan mengulangi hal yang sama.

Ia pun pernah menyinggung kaisar dengan mencuri dan memainkan seruling giok ungu milik Pangeran Ning. Kaisar pun marah, ia pun diusir kembali. Kali ini Yang Zhao sepupunya khawatir dan meminta kenalannya Ji Wen untuk menolong. Ji Wen menjelek-jelekkan Yang Guifei sampai kaisar lebih marah dari sebelumnya. Kaisar pun akhirnya akan menghukum lebih jauh tapi Yang Guifei meminta pelayan istana untuk mengantar potongan rambut Yang Guifei ke Kaisar Xuanzong. Ji Wen kembali berulah-ulah dan kali ini malahan membela Yang Guifei dengan menyebutkan semua yang telah dilakukannya untuk Kaisar Xuanzong. Kaisar pun luluh hatinya dan meminta Gao Lishi membawa pulang Yang Guifei.

Karena cinta kaisar kepada Yang Guifei, maka ia mengangkat Yang Xuanyan, ayahnya, menjadi Gubernur Jiyin dan kemudian menjadi Menteri Perang dan akhirnya diberi gelar sebagai pilar negara. Pamannya diangkat menjadi Menteri Agung Hiburan Kekaisaran. Sedangkan kakaknya, Yang Xian, juga diangkat sebagai pejabat. Sepupunya Yang Qi pun dinikahkan pada Putri Taihua, putri kesayangan kaisar yang kebetulan juga putri dari Selir Wu. Semua ini memungkinkan keluarga Yang untuk keluar masuk istana dan memiliki kekuasaan besar di pemerintahan.

Di antara semua relasinya sepupunya Yang Zhao adalah pejabat dengan tingkat tertinggi. Ia pun diberi nama Guozhong oleh kaisar yang berarti setia pada Negara. Pada tahun ke-11 Tianbao (752 M) ia resmi diangkat sebagai perdana menteri.
Yang Guifei juga konon menyukai buah leci. Tapi buah-buahan dengan kualitas terbaik hanya tumbuh di selatan. Maka pada musim panen Kaisar Xuanzong akan memerintahkan orang untuk menunggang kuda yang berlari kencang untuk membawa buah itu ke istana siang-malam. Karena kegemarannya pada leci, para petani bahkan memberi nama sebuah jenis leci yang berkualitas tinggi dengan nama "Senyum Sang Selir" (贵妃笑).

Pemberontakan Anshi dan akhir hidup

Pada tahun 755, atas usul seorang pejabat bernama Li Linfu, seorang gubernur militer dari suku utara bernama An Lushan menjadi sangat kuat dan dipercaya oleh kaisar. Kaisar menyayanginya sampai-sampai menganggapnya putranya sendiri. Ia memiliki kebiasaan yang aneh, yaitu pada jamuan kerajaan ia tidak akan bersujud kepada kaisar namun hanya kepada Yang Guifei. Pada saat ditanya ia menjawab bahwa ia adalah keturunan dari suku di utara dan kebiasaan sukunya hanya menghormati ibu dan bukan ayah. Mendengar itu kaisar hanya tetawa dan memaafkannya.

Kemudian ia mulai menentang kedaulatan pemerintahan Kaisar Xuanzong. Ia memimpin pemberontakkan di bawah panji untuk menghancurkan pemerintahan Yang Guozhong yang korup. Pemberontakan ini bernama Pemberontakan Anshi dan ingin membangun rezim Dayan.

Saat pasukan pemberontak mendekati Chang'an, ibu kota Tang, Kaisar Xuanzong melarikan diri bersama seluruh isi istananya dan sepasukan tentaranya ke Sichuan. Saat mereka mencapai desa yang disebut Lereng Mawei, pasukannya menolak untuk meneruskan perjalanan. Mereka meminta Perdana Menteri Yang Guozhong dan Yang Guifei dieksekusi mati, karena masalah yang mereka hasilkan.

Atas nasihat seorang pejabat bernama Wei E, kaisar menyetujui untuk mengesekusi Yang Guifei, walaupun ia sangat mencintai Yang Guifei, karena hidupnya dan masa depan dinasti lebih penting dibandingkan seorang wanita. Yang Guifei pun mengerti keadaan ini, walau sedih, ia tidak marah dan dendam, karena besar cintanya pada kaisar. Maka ia pun dingantung dengan seutas selendang putih oleh Gao Lishi. Walaupun ia sangat berkuasa, tapi sang kaisar tidak bisa mencegah tragedi itu. Ia hanya bisa menutup matanya, dan membiarkan air mata membasahi pipinya.

Pemberontakkan akhirnya dapat ditumpas, kaisar pun kembali ke istananya, tetapi Yang Guifei telah tiada selamanya. Kehilangan Yang Guifei membuat kaisar sangat sedih. Ia menjadi tak bergairah dan menderita insomnia. Sang kaisar menjadi sangat menderita. Menurut legenda, datanglah seorang pendeta Tao menawarkan diri untuk membantu kaisar. Ia mengatakan bahwa ia dapat berkomunikasi dengan orang mati. Maka sang pendeta mulai mencari roh Yang Guifei di dunia orang mati. Akhirnya mereka menemukan Yang di sebuah pulau suci di dunia orang mati. Pulau itu dipenuhi bidadari, dan Yang Guifei adalah yang paling cantik di antara mereka.

Menerima utusan kekasihnya, ia cepat-cepat keluar kamarnya tanpa menggunakan banyak riasan rambut. Ia berkata kepada sang pendeta,“Tolong sampaikan pada Yang Mulia, walau kehidupan di dunia nyata itu singkat, tetap di pulau suci ini waktu tak terbatas. Berikan setengah jepit rambutku padanya dan biarlah ia tahu bahwa cintaku untuknya, cinta ini tetapi kokoh seperti emas yang menjadi bahan dari jepit ini.”

Setiap hari ketujuh di bulan ketujuh sang kaisar selalu mengunjungi Kuil Umur Panjang untuk berkomunikasi dengan permaisurinya. Ia berdoa, “Semoga kami menjadi sepasang burung yang terbang di surga dan menjadi sepasang pohon yang berjalin di bumi.”

Adaptasi
Bai Juyi (白居易) seorang penyair terkenal dinasti Tang membuat sebuah puisi berjudul "Lagu Sedih yang Panjang" (长恨歌). Tak sedikit film dan drama terinspirasi dari kisah cinta Yang Guifei dan Kaisar Xuanzong. Opera Beijing yang terkenal berjudul "Selir Mabuk" (贵妃酗酒) terinspirasi juga dari Yang Guifei.
Pemandian air panas Hua Qing (华清池), yang dianugrahkan Kaisar Xuanzong dan makamnya adalah tujuan wisata terkenal di Xi'an.
Ia pun terkenal di negeri Jepang. Di sana ia disebut dengan nama Yōkihi. Banyak yang percaya bahwa ia tidak mati melainkan melarikan diri ke Jepang. Di sana bahkan ada makamnya untuk membuktikan bahwa Yang Guifei benar-benar melarikan diri. Di sebuah kuil di Kyoto bernama Kuil Sennyu-Ji(泉涌寺) bahkan ada sebuah lukisan bertajuk "Kwan Im Yang Guifei"(杨贵妃观音).
Pada tahun 2002 seorang artis Jepang, Yamaguchi Momoe mengakui bahwa ia adalah keturunan Yang Guifei.

Sumber wikipedia.org

Kisah Selir yang Menyelamatkan Dinasti dari Keruntuhan (Empress ORchid)


Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada “3 ta”, yaitu Tahta, Harta dan Wanita…

Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria).

Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri.

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya.

Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan.

Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti.

“Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri,” sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya.

Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya…

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit.

Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu.

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar.

Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai “Puteri kebajikan nan tak tertandingi!” Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan.

Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani.

Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing.

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka.

Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai “Kota Terlarang” penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri.

Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi!

Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

RENUNGAN :
Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang.

Kisah Idiom tentang Makan Di Timur, Tidur Di Barat


Pada jaman perang berkecamuk di negeri Tiongkok, di negara Qi dikisahkan ada seorang gadis cantik jelita bak bidadari, ia adalah putri semata wayang yang sangat disayangi oleh kedua orangtuanya, yang berharap putrinya kelak bisa mendapatkan seorang suami yang ideal. Rumah tinggal gadis tersebut mempunyai tetangga yang masing-masing satu di sebelah barat dan lainnya disebelah timur, dan secara kebetulan kedua tetangga ini masing-masing juga mempunyai seorang putra yang masih perjaka, namun kondisi ekonomi kedua tetangga tersebut sungguh berbeda. Tetangga yang di sebelah timur adalah saudagar kaya, hartanya melimpah dan hidup bergelimang dengan kemewahan. Sedangkan tetangga yang disebelah barat adalah keluarga yang miskin, makan dengan lauk pauk seadanya, berpakaianpun sangat sederhana, hidup dalam kondisi serba kekurangan.

Putra kedua tetangga ini juga kebetulan bertolak belakang antara satu dengan lainnya, si perjaka tetangga yang disebelah timur, walaupun lahir dengan kondisi yang berkecukupan, namun wajah penampilannya sangat buruk, dan juga tidak memiliki kepandaian. Sedangkan perjaka yang tinggal di sebelah barat, walaupun lahir dari keluarga miskin, namun berwajah tampan dan cukup berpendidikan.

Suatu hari, kedua tetangga tersebut datang secara bersamaan untuk melamar putri tetangga mereka yang cantik tersebut, kedua orang tua gadis tersebut jadi serba salah, karena sulit menjatuhkan pilihan, antara menerima lamaran lelaki kaya tapi buruk rupa dan tak berpendidikan ataukah memilih lelaki tampan yang berpendidikan? dalam keadaan bingung, akhirnya keputusan ini mereka serahkan kepada putrid mereka. Seketika itu, gadis putri mereka wajahnya menjadi merah padam, berapa kali ingin membuka mulutnya, tapi seakan apa yang ingin dikeluarkan tertahan di kerongkongan, setelah beberapa saat ditunggu, sepatah katapun tak juga keluar dari mulut gadis ini.

Kedua orang tua gadis tersebut mengira putri mereka sulit mengutarakan karena malu, lalu mereka memberikan saran: "Anakku, kalaupun kau malu untuk mengucapkannya, kau berikan saja tanda dengan menjulurkan tanganmu dari lengan baju, kalau kau senang dengan anak si juragan kaya, julurkan tanganmu yang sebelah kanan, jika kau memilih anak tetangga sebelah barat, julurkan tangan kirimu, sehingga kami mengetahui keinginanmu, namun semua itu terserah keputusanmu." Dan sungguh tak disangka oleh kedua orang tuanya, baru selesai mereka berbicara, si gadis langsung menjulurkan kedua tangannya dan bahkan mengangkatnya tinggi-tinggi, kedua orang tua tersebut tak memahami maksud anak gadisnya ini, lalu serentak bertanya: "Apa yang kamu maksud dengan menjulurkan kedua tanganmu?" Si gadis dengan tersipu malu mengatakan: "Biarlah aku rela makan di keluarga tetangga sebelah barat dan tidur di keluarga tetangga sebelah timur." Jawaban ini sungguh membuat kedua orang tuanya sangat kecewa dan tak sanggup berkata apa-apa lagi.

RENUNGAN:
Idiom "Makan di Timur, Tidur di Barat" adalah melukiskan seorang yang rakus, tamak, tidak tahu malu dan hanya memilih yang menguntungkan dirinya saja.

Rabu, 12 Desember 2012

Kisah Asal-Usul Tradisi "Bakar Rumah-rumahan Kertas"


Sejak zaman dulu sebenarnya ada 2 jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna
keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Mereka yang mempercayai tradisi ini beranggapan bahwa dengan membakar kertas emas dan perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada zaman Tiongkok kuno.

Tetapi ternyata kemajuan zaman telah mempengaruhi pula tradisi ini, sekarang yang dibakar bukan hanya kertas emas dan perak, ada pula sejenis uang kertas dengan nilai nominal aduhai (milyaran), yang bentuknya mirip dengan uang kertas yang digunakan pada zaman sekarang. Yang membedakannya adalah kalau pada uang kertas yang berlaku pada umumnya ada yang bergambar kepala negara atau pahlawan, tetapi pada uang kertas yang akan dikirim kepada para leluhur yang telah meninggal ini bergambar Yen Lo Wang (Giam Lo Ong) yakni Dewa Yama, penguasa alam neraka, dan adanya tulisan "Hell Bank Note" (Mata Uang Neraka). Sebenarnya ini adalah salah kaprah yang perlu diluruskan, karena yang semestinya uang-uangan ini dimaksudkan untuk alam baka dan buka neraka. Entah dari mana asal mula timbulnya ide untuk membuat dan membakar uang kertas akhirat seperti itu, mungkin dasar pemikirannya adalah karena sekarang mata uang tidak lagi berupa kepingan emas dan perak, melainkan uang kertas; tentunya di alam sana juga perlu penyesuaian.

Konon tradisi "Bakar Rumah-rumahan dan uang Kertas" ini baru dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana serta pemeluk Agama Buddha yang taat sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.

Dalam pandangan Kaisar sendiri, beliau puas dengan kemakmuran yang ada disekeliling beliau. Masyarakat dikota raja semuanya hidup bahagia, tenteram dan damai. Sampai suatu ketika sang raja pergi keluar kota raja dan melihat keadaan masyarakatnya yang sesungguhnya.

Keadaan diluar kota raja sungguh menyedihkan. Mereka hanya cukup untuk makan, namun mereka tidak punya apa-apa dan hidup dalam kemiskinan. Yang ada hanyalah pohon-pohonan bambu saja dihalaman rumah mereka.

Sekembalinya ke kota raja, sang kaisar murung dan terus berpikir keras bagaimana caranya untuk menyeimbangkan kesejahteraan rakyatnya baik yang dikota maupun diluar kota raja. Akhirnya kemudian dikisahkan sang raja mendapatkan ide untuk berpura-pura mangkat, dengan demikian maka seluruh orang kaya di kota raja akan berkumpul untuk melayat beliau.

Disebarkan kabar bahwa Kaisar menderita sakit yang cukup parah, mendengar kabar ini rakyat menjadi sedih. Beberapa hari kemudian secara resmi keluar pengumuman dari Kerajaan bahwa Kaisar Lie Sie Bien meninggal dunia. Rakyat benar benar berduka-cita karena merasa kehilangan seorang Kaisar yang dicintai, sebagai ungkapan rasa duka cita ini penduduk memasang kain putih di depan pintu rumahnya masing-masing tanda ikut berkabung atas mangkatnya Sang Kaisar.

Sebagaimana tradisi pada waktu itu, jenazah Kaisar tidak langsung dikebumikan,
melainkan disemayamkan selama beberapa minggu untuk memberi kesempatan pada para pejabat istana dan rakyat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Alkisah, setelah beberapa hari kemudian Kaisar Lie Sie Bien hidup kembali atau
bangkit kembali dari kematiannya. Dan kemudian beliau bercerita mengenai perjalanan panjangnya menuju alam neraka, yang dialaminya selama saat kematiannya.

Dimana salah satu cerita beliau, adalah ketika beliau dalam perjalanan menuju alam neraka, sang Kaisar bertemu dengan ayah bunda, dan sanak keluarga, serta teman-temannya yang telah lama meninggal dunia. Dimana dikisahkan bahwa kebanyakan dari mereka berada dalam keadaan menderita kelaparan, kehausan, dan serba kekurangan walaupun dulu semasa hidupnya mereka hidup senang dan mewah. Keadaan mereka sangat menyedihkan, walaupun saat ini anak-anak dan keturunannya yang masih hidup berada dalam keadaan senang dan bahagia.

Makhluk-makhluk yang menderita ini berteriak memanggil Lie Sie Bien untuk minta pertolongan dan bantuannya untuk mengurangi penderitaan mereka. Menurut Kaisar mereka ini sangat mengharapkan bantuan dan pemberian dari keturunan dan sanak-keluarganya yang masih hidup.

Lalu sang Kaisar menghimbau dan menganjurkan agar keturunan dan sanak keluarga yang masih hidup jangan sampai melupakan leluhur dan keluarganya yang telah meninggal. Kita yang masih hidup wajib mengingat dan memberikan bantuan kepada mereka yang menderita di alam sana, sebagai balas budi kita kepada leluhur kita itu.

Untuk itu keluarga yang masih hidup dianjurkan untuk mengirimkan bantuan dana/uang kepada mereka yang berada di alam penderitaan itu. Dan dana bantuan itu adalah salah satunya berupa "Rumah-rumahan" dan uang-uangan untuk dibakar yang terbuat dari bambu-bambu (yang juga merupakan bahan dasar pembuatan kertas saat itu). Rumah-rumahan ini yang kemudian dibakar dan akan menjelma menjadi rumah beserta isinya di alam sana, sehingga dapat dipergunakan oleh ayah bunda, leluhur, dan sanak keluarga yang berada di alam sana untuk meringankan penderitaan mereka.

Karena yang berkisah ini adalah seorang Kaisar yang sangat dihormati dan dicintai segenap rakyatnya, maka tentu saja cerita ini dipercayai, dan himbauan kaisar langsung mendapatkan tanggapan yang baik dari para pejabat, bangsawan, dan seluruh rakyat kerajaan Tang.

Dengan demikian maka masyarakat kota raja akan berbondong-bondong membeli bambu untuk kebutuhan rumah-rumahan yang akan dibakar serta pembuatan kertas kepada masyarakat luar kota raja yang hidup dalam kemiskinan.

RENUNGAN :
Dalam persembahyangan dan melakukan pembakaran uang-uangan kertas awalnya sebenarnya untuk membantu perekonomian masyarakat miskin dinasty Tang. Namun saat ini sudah berubah menjadi area bisnis bagi kalangan pengusaha yang sebenarnya tidak dapat disalahkan, hanya kita sebagai pelaku perlu untuk memahami maksud yang sebenarnya sehingga tidak melakukan sesuatu yang tidak dipahami dengan baik.

Apalagi adanya salah kaprah pada jenis uang-uangan saat ini dengan menuliskan Bank of Hell yang sebenarnya jauh dari maksud awal yang bermaksud untuk menjadi mata uang alam baka dan bukan mata uang neraka seperti yang terjadi saat ini.

Selain itu, pembakaran juga mengingatkan kita dengan pilar-pilar budaya Tionghoa untuk penghormatan terhadap leluhur. Selain itu, persembahyangan merupakan waktu kebersamaan untuk berkumpul dan bercerita mengenang pesan moral dan kebaikan leluhur untuk dijaga dan diteruskan oleh kita sebagai keturunannya sebagai wujud nilai bakti kepada leluhur.

Pembakaran juga memiliki pesan moral tersirat untuk berbakti dan setia kepada negeri kita tinggal karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam dan tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak, tempat kita lahir dan bertumbuh.

Semoga dengan penulisan ini semua bisa benar-benar memahami apa yang dilakukan. Karena maksud sebenarnya sangat baik dan memiliki nilai moral yang tinggi, terkadang hanya karena ketidak tahuan maka bisa terjadi penyimpangan yang tidak dipahami.

Sumber Tulisan :
1. Origins of Chinese People and Custom, Li Xiaoxiang, Asiapac Culture Singapore, 2001
2. http://suhuliem.forumotion.com/ajaran-taoismeklik-disini-f4/ask-tanya-kim-cua-t50.htm
3. http://www.indonesiaindonesia.com/f/34700-bakar-kertas-sembahyang/
4. Berdasarkan penuturan Bhante Dhammiko, Dhammadesana Vihara Berkah Utama

Senin, 03 Desember 2012

Urutan Marga Tionghoa dari yang paling banyak hingga ke yang langka

 
 
1 李 lǐ

2 王 wáng

3 张 zhāng

4 刘 liú

5 陈 chén

6 杨 yáng

7 黄 huáng

8 赵 zhào

9 周 zhōu

10 吴 wú

11 徐 xú

12 孙 sūn

13 朱 zhū

14 马 mǎ

15 胡 hú

16 郭 guō

17 林 lín

18 何 hé

19 高 gāo

20 梁 liáng

21 郑 zhèng

22 罗 luó

23 宋 sòng

24 谢 xiè

25 唐 táng

26 韩 hán

27 曹 cáo

28 许 xǔ

29 邓 dèng

30 萧 xiāo

31 冯 féng

32 曾 zēng

33 程 chéng

34 蔡 cài

35 彭 péng

36 潘 pān

37 袁 yuán

38 于 yú

39 董 dǒng

40 余 yú

41 苏 sū

42 叶 yè

43 吕 lǚ

44 魏 wèi

45 蒋 jiǎng

46 田 tián

47 杜 dù

48 丁 dīng

49 沈 shěn

50 姜 jiāng

51 范 fàn

52 江 jiāng

53 傅 fù

54 钟 zhōng

55 卢 lú

56 汪 wāng

57 戴 dài

58 崔 cuī

59 任 rèn

60 陆 lù

61 廖 liào

62 姚 yáo

63 方 fāng

64 金 jīn

65 邱 qiū

66 夏 xià

67 谭 tán

68 韦 wéi

69 贾 jiǎ

70 邹 zōu

71 石 shí

72 熊 xióng

73 孟 mèng

74 秦 qín

75 阎 yán

76 薛 xuē

77 侯 hóu

78 雷 léi

79 白 bái

80 龙 lóng

81 段 duàn

82 郝 hǎo

83 孔 kǒng

84 邵 shào

史 shǐ

86 毛 máo

87 常 cháng

88 万 wàn

89 顾 gù

90 赖 lài

91 武 wǔ

92 康 kāng

93 贺 hè

94 严 yán

95 尹 yǐn

96 钱 qián

97 施 shī

98 牛 niú

99 洪 hóng

100 龚 gōng

101 安 ān

102 诸 zhū

103 卫 wèi

104 尤 yóu

103 华 huá

106 陶 táo

107 戚 qī

108 喻 yù

109 柏 bǎi

110 水 shuǐ

111 窦 dòu

112 章 zhāng

113 云 yún

114 葛 gé

115 奚 xī

116 郎 láng

117 鲁 lǔ

118 昌 chāng

119 苗 miáo

120 凤 fèng

121 花 huā

122 俞 yú

123 柳 liǔ

124 酆 fēng

125 鲍 bào

126 费 fèi

127 廉 lián

128 岑 cén

129 倪 ní

130 汤 tāng

131 滕 téng

132 殷 yīn

133 毕 bì

134 邬 wū

135 乐 lè

136 时 shí

137 皮 pí

138 卞 biàn

139 齐 qí

140 伍 wǔ

141 元 yuán

142 卜 bǔ

143 平 píng

144 和 hé

145 穆 mù

146 堪 kān

147 祁 qí

148 禹 yǔ

149 狄 dí

150 米 mǐ

151 贝 bèi

152 明 míng

153 臧 zāng

154 计 jì

155 伏 fú

156 成 chéng

157 谈 tán

158 茅 máo

159 庞 páng

160 纪 jì

161 shū

162 屈 qū

163 项 xiàng

164 祝 zhù

165 粱 liáng

166 阮 ruǎn

167 蓝 lán

168 闵 mǐn

169 席 xí

170 季 jì

171 麻 má

172 强 qiáng

173 路 lù

174 娄 lǚ

175 危 wéi

176 童 tóng

177 颜 yán

178 梅 méi

179 盛 shèng

180 刁 diāo

181 骆 luò

182 樊 fán

183 凌 líng

184 霍 huò

185 虞 yú

186 支 zhī

187 柯 kē

188 咎 jiù

189 管 guǎn

190 莫 mò

191 经 jīng

192 房 fáng

193 裘 qiú

194 缪 miào

195 干 gān

196 解 jiě

197 应 yìng

198 宗 zōng

199 宣 xuān

200 贲 bì

201 郁 yù

202 单 dān

203 杭 háng

204 包 bāo

205 诸 zhū

206 左 zuǒ

207 吉 jí

208 钮 niǔ

209 嵇 jī

210 邢 xíng

211 滑 huá

212 裴 péi

213 荣 róng

214 翁 wēng

215 荀 xún

216 羊 yáng

217 於 yú

218 惠 huì

219 甄魏 zhēn wèi

220 家封 jiā fēng

221 芮 ruì

222 羿 yì

223 储 chú

224 靳 jìn

225 汲 jí

226 邴 bǐng

227 糜 mí

228 松 sōng

229 井 jǐng

230 富 fù

231 巫 wū

232 乌 wū

233 焦 jiāo

234 巴 bā

235 弓 gōng

236 牧 mù

237 隗 wěi

238 山谷 shān gǔ

239 车 chē

240 宓 mì

241 蓬 péng

242 全 quán

243 郗 chī

244 班 bān

245 仰 yǎng

246 秋 qiū

247 仲 zhòng

248 伊 yī

249 宫 gōng

250 宁 zhù

251 仇 chóu

252 栾 luán

253 暴 bào

254 甘 gān

255 钭 tǒu

256 厉 lì

257 戎 róng

258 祖 zǔ

259 符 fú

260 景 jǐng

261詹 zhān

262 束 shù

263 幸 xìng

264 司 sī

265 韶 sháo

266 郜 gào

267 黎 lí

268 蓟 jì

269 薄 bó

270 印 yìn

271 宿 sù

272 怀 huái

273 蒲 pú

274 台 tái

275 从 cóng

276 鄂 è

277 索 suǒ

278 咸 xián

279 籍 jí

280 卓 zhuó

281 蔺 lìn

282 屠 tú

283 蒙 méng

284 池 chí

285 乔 qiáo

286 阴郁 yīn yù

287 胥 xū

288 能 néng

289 苍 cāng

290 双 shuāng

291 闻 wén

292 莘 xīn

293 党翟 dǎng zhái

294 贡 gòng

295 劳 láo

296 逄 páng

297 姬 jī

298 申 shēn

299 扶 fú

300 堵 dǔ

301 冉 rǎn

302 宰 zǎi

303 郦 lì

304 雍 yōng

305 卻 què

306 璩 qú

307 桑 sāng

308 桂 guì

309 濮 pú

310 寿 shòu

311 通 tōng

312 边 biān

313 扈 hù

314 燕 yàn

315 冀 jì

316 郏 jiá

317 浦 pǔ

318 尚 shàng

319 农 nóng

320 温 wēn

321 别 bié

322 庄 zhuāng

323 晏 yàn

324 柴 chái

325 翟 zhái

326 充 chōng

327 慕 mù

328 连 lián

329 茹 rú

330 习 xí

331 宦 huàn

332 艾 ài

333 鱼 yú

334 容 róng

335 向 xiàng

336 古 gǔ

337 易 yì

338 慎 shèn

339 戈 gē

340 庚 gēng

341 终 zhōng

342 暨 jì

343 居 jū

344 衡 héng

345 步 bù

346 都 dōu

347 耿 gěng

348 满 mǎn

349 弘 hóng

350 匡 kuāng

351 国 guó

352 文 wén

353 寇 kòu

354 广 guǎng

355 禄 lù

356 阙 quē

357 东 dōng

358 殴 ōu

359 殳 shū

360 沃 wò

361 利 lì

362 蔚 wèi

363 越 yuè

364 夔 kuí

365 隆 lóng

366 师 shī

367 巩 gǒng

368 厍 shè

367 聂 niè

370 晁 cháo

371 勾 gōu

372 敖 áo

373 融 róng

374 冷 lěng

375 訾 zǐ

376 辛 xīn

377 阚 kàn

378 那 na

379 简 jiǎn

380 饶 ráo

381 空 kōng

382 毋 wú

383 沙 shā

384 乜 miē

385 养 yang

386 鞠 jú

387 须 xū

388 丰 fēng

389 巢 cháo

390 关 guān

391 蒯 kuǎi

392 相 xiāng

393 查 chá

394 后 hòu

395 荆 jīng

396 红 hóng

397 游 yóu

398 竺 zhú

399 权 quán

400 逯 lù

401 盖 gài

402 後 hòu

403 桓公 huán gōng

404 万俟 wàn sì

405 司马 sī mǎ

406 上官 shàng guān

407 欧阳 ōu yáng

408 夏侯 xià hóu

409 诸葛 zhū gé

410 闻人 wén rén

411 东方 dōng fāng

412 赫连 hè lián

413 皇甫 huáng fǔ

414 尉迟 wèi chí

415 公羊 gōng yáng

416 澹台 dàn tái

417 公冶 gōng yě

418 宗政 zōng zhèng

419 濮阳 pú yáng

420 淳于 chún yú

421 单于 dān yú

422 太叔 tài shú

423 申屠 shēn tú

424 公孙 gōng sūn

425 仲孙 zhòng sūn

426 轩辕 xuān yuán

427 令狐 lìng hú

428 钟离 zhōng lí

429 宇文 yǔ wén

430 长孙 zhǎng sūn

431 慕容 mù róng

432 鲜于 xiān yú

433 闾丘 lǘ qiū

434 司徒 sī tú

435 司空 sī kōng

436 亓 qí

437 官 guān

438 司寇 sī kòu

439 仉 zhǎng

440 督 dū

441 子 zi

442 车 chē

443 颛孙 zhuān sūn

444 端木 duān mù

445巫马 wū mǎ

446 公西 gōng xī

447 漆雕 qī diāo

448 乐正 lè zhèng

449 453壤 rǎng

450 驷 sì

451 公良 gōng liáng

452 拓 tuò

453 拔 bá

454 夹 jiá

455 谷 gǔ

456 宰父 zǎi fù

457 谷粱 gǔ liáng

458 晋 jìn

459 楚 chǔ

460 闫 yàn

461 法 fǎ

462 汝 rǔ

463 鄢 yān

464 涂 tú

465 钦 qīn

466 段干 duàn gān

467 百里 bǎi lǐ

468 东郭 dōng guō

469 南门 nán mén

470 呼延 hū yán

471 归 guī

472 海 hǎi

473 羊舌 yáng shé

474 微 wéi

475 生 shēng

476 岳 yuè

477 帅 shuài

478 缑 gōu

479 亢 kàng

480 况后 kuàng hòu

481 有琴 yǒu qín

482 丘 qiū

483 左丘 zuǒ qiū

484 东门 dōng mén

485 西门 xī mén

486 商 shāng

487 牟 móu

488 佘 shé

489 佴 èr

490 伯 bó

491 赏 shǎng

492 南宫 nán gōng

493 墨 mò

494 哈 hā

495 谯 qiáo

496 笪 dá

497 年 nián

498 爱 ài

499 阳 yáng

500 佟 tóng

501 欧 ōu

502 黑 hēi

503 励 lì

504 楼 lóu

505 麦 mài

506 莽 mǎng

507 南 nán

508 赛 sài

509 山 shān




Sebenarnya nama bukan hanya 2, namun bisa 5-10..
Orang China yg biasa dikenal oleh non-chinese pasti dianggap hanya "orang china" saja tanpa tau mereka dibagilagi menjadi beberapa sub-suku..hehe

Karena ane ga pandai bahasa, ane pake contoh kata2 yg umun aja ya..

Misalnya ada orang yang bernama WU HUANG REN (HUANG disini bukan marga contohnya)

WU HUANG REN, artinya

WU = Marga, tidak ada artinya bila melekat di nama
HUANG = Kuning
REN = Orang

Jadi orang tersebut bernama "Manusia Kuning" karena struktur bahasa inggris ma china sama, seperti YELLOW MAN gitu lah..

Uda dapet nama dalam bahasa mandarin, WU HUANG REN

Tetapi orang tionghoa itu banyak bahasanya gan, berbeda2 di tiap tempat di RRC sana..

ada yg dikenal dengan Hakka, Tiociu, Hokkien, Kanton, Hainan, Hokchia, dll.. (sebenarnya ada banyak gan)

Tadi kan dalam bahasa mandarin, WU=Marga, HUANG=Kuning, REN=Orang
Dalam bahasa Hakka menjadi, NG=Marga, BONG=Kuning, NYIN=Orang
Dalam bahasa Tiociu menjadi, GOUW=Marga, NG=Kuning, NANG=Orang
Dalam bahasa Hokkien menjadi, GOH=Marga, OEI=Kuning, LANG=Orang
Dalam bahasa Kanton menjadi, NG=Marga, WONG=Kuning, YAN=Orang
Dalam bahasa Hokchia, Hainan, Taiwan, Korean, Japan, Tibet, Mongol, dan sebagainya..uda punya berapa nama? karena mereka semua dari rumpun yang sama, orang-orang yang menggunakan KANJI, dan berasal dari ras yang sama (Ras Timur)..

Jadi, si "Manusia Kuning" ini mempunya banyak nama, yaitu:

WU HUANG REN
NG BONG NYIN
GOUW NG NANG
GOH OEI LANG
NG WONG YAN
dan sebagainya..
Semua sama saja 1 arti.. si "manusia kuning bermarga 吴"

Masalah traditional dan simplified, itu masalah penulisan HANZI/KANJI
Traditional tulisan yg digunakan orang-orang dahulu, pada saat huruf itu ditemukan..
Sekarang huruf tersebut dianggap "buang-buang tinta pena", dan disederhanakan menjadi tulisan Simplified, namun mempunyai arti yg sama..


Dalam bahasa Hakka sendiri, HANZI Traditional disebut CIN SIA, HANZI Simplified disebut SANG SIA


Legenda Li Chung Yun Manusia yang Berumur 256 Tahun


"Jagalah agar hatimu tetap tenang, duduklah seperti kura-kura, berjalanlah dengan riang seperti merpati dan tidurlah seperti seekor anjing."

Itulah kalimat nasehat yang diberikan oleh L
i Chung Yun ketika seorang kepala suku bernama Wu Pu Fei mengundangnya ke rumah dan menanyakan rahasia umur panjang. Li Chung Yun meninggal pada tanggal 6 Mei 1933. Saat itu usianya 256 tahun.

Mr Li tinggal di propinsi Sichuan di Cina dimana umur panjang melambangkan kebesaran seseorang. Pada saat usianya 10 tahun, ia sudah berkelana ke Kansu, Shansi, Tibet, Annam, Siam dan Manchuria untuk mengumpulkan tanaman obat. Ia terus mengumpulkan tanaman obat hingga berumur 100 tahun.
Beberapa sumber mengatakan bahwa Mr.Li telah menguburkan 23 Istri dan pada saat meninggalnya ia hidup bersama istri ke 24. Dari ke-24 istrinya, Li memiliki anak cucu hingga 11 generasi dan berjumlah sekitar 200 orang. Ia memiliki kuku yang panjang sekitar 6 inci. Walapun usianya sudah 200 tahun lebih, namun dalam pandangan orang-orang ia kelihatan seperti seseorang yang berusia 60 tahun-an.

Menurut Mr. Li, ia lahir tahun 1736. Namun pada tahun 1930, seorang profesor dari departemen pendidikan universitas Chengdu yang bernama Wu Chung Chieh menemukan sebuah catatan dari kerajaan Cina yang memberikan ucapan selamat kepada Li Ching Yun atas ulang tahunnya yang ke-150 tahun. Ucapan selamat itu diberikan pada tahun 1827. Apabila pada tahun 1827 ia berulang tahun ke-150, maka itu berarti catatan kerajaan menunjukkan bahwa Mr. Li lahir pada tahun 1677 dan saat meninggal di tahun 1933, ia berumur 256 tahun.

Pada saat kematiannya, ucapan dukacita untuk Mr.Li dipublikasikan oleh media-media ternama dunia, termasuk The New York Times dan Times Magazine.

Apakah Li lahir tahun 1677 atau 1736 seperti pengakuannya ? Apabila ia lahir tahun 1736 sesuai pengakuannya, berarti ia meninggal pada usia 197 tahun, jauh lebih lama dibandingkan dengan orang tertua yang pernah tercatat yaitu Jeanne Louise Calment dari Perancis yang meninggal pada tahun 1997 di usia 122 tahun 164 hari. Sebelumnya, di Cina juga pernah tercatat adanya seorang yang bernama Chen Jun yang dipercaya meninggal pada usia 443 tahun.

Selama hidupnya, Mr Li dikenal sebagai seorang Herbalis dan ahli kungfu. Pada tahun 1749 ketika ia berumur 71 tahun, ia pindah ke kota Kai Xian untuk bergabung dengan pasukan Cina sebagai pelatih kungfu dan penasehat militer.

Kisah hidupnya kemudian mengalir seperti sebuah kisah dari film-film silat yang kita tonton. Salah seorang murid Mr. Li, yaitu Master Tai Chi bernama Da Liu menceritakan kisah ini. Pada saat Mr. Li berusia 130 tahun, ia berjumpa dengan seorang pertapa di sebuah gunung yang kemudian mengajarinya Jiulong Baguazhang (sembilan naga delapan diagram telapak tangan) dan Qigong (tenaga dalam) dengan instruksi pernapasan khusus, pergerakan dan cara mengkordinasikannya dengan suara spesifik serta rekomendasi makanan. Da Liu mengatakan bahwa Mr.Li dapat memiliki umur panjang karena ia secara teratur melakukan latihan-latihan tersebut setiap hari, secara teratur, dengan benar dan dengan tulus selama 120 tahun. Sampai saat ini, para praktisi Jiulong Baguazhang modern mengakui bahwa pengetahuan yang mereka peroleh berasal langsung dari Mr. Li.

Pada tahun 1933, ia meninggal dunia. Mr li pernah berkata kepada seorang sahabat,"Aku telah menyelesaikan semua hal yang harus diselesaikan di dunia ini, sekarang aku akan pulang." Li Chung Yun meninggal tidak lama setelah itu. Dan sejak itu muncullah Legenda Li Chung Yun, Manusia yang berumur 256 tahun.

Kisah Yang Pu Memukul Anjing


Dahulu kala, disebuah desa, tinggal sebuah keluarga yang bermarga Yang. Mata pencaharian mereka adalah bertani.

Keluarga Yang ini mempunyai 2 orang anak lelaki, yang tertua bernama Yang Zhu dan yang bungsu ber
nama Yang Pu. Kedua kakak beradik ini selain membantu orang tua mereka bertani dan mengangkat air, mereka juga rajin pergi ke sekolah.

Kedua saudara ini sangat pintar menulis sajak, mereka mempunyai kumpulan teman-teman yang pintar bersajak. Pada suatu hari, si bungsu memakai baju putih yang rapi keluar mencari teman-teman sajak mereka.

Ketika berangkat ke rumah temannya, tiba-tiba turun hujan, makin lama makin deras.

Yang Pu kehujanan di jalan pengunungan yang tidak ada rumah di sekelilingnya.

Karena tidak ada tempat berteduh, akhirnya badan Yang Pu menjadi basah kuyup, dia hanya dapat berlari ke rumah teman karibnya ini.

Biasanya mereka suka berkumpul berdiskusi tentang sajak dan lukisan.

Setelah sampai dirumah sahabat karibnya, dia membuka baju atasan putihnya yang telah basah kuyup dan mengganti dengan kemeja hitam yang dipinjamkan teman karibnya ini.

Setelah makan malam di rumah sahabat karibnya ini mereka melanjutkan diskusi tentang sajak dan lukisan dengan asyik, tanpa sadar hari telah menjadi gelap.

Yang Pu menjemur kemeja putihnya dirumah temannya, dia tetap memakai kemeja hitam temannya lalu pamit pulang ke rumahnya.

Karena hujan deras jalan-jalan di sepanjang desa, walaupun basah, tetapi tidak terlalu becek karena banyak ditimbuni kerikil-kerikil kecil.

Hari telah gelap, tetapi karena ada cahaya bulan, jalan di desa masih terlihat dengan jelas.

Angin berhembus dengan sepoi-sepoi, dari hutan wangian bunga liar yang terhembus angin tercium sangat menyegarkan, jika bukan karena hari semakin lama menjadi semakin gelap, Yangpu sangat ingin bersantai-santai menjelajahi jalan-jalan gunung ini! Dia berjalan sambil memikirkan diskusi tadi dengan teman karibnya tanpa sadar dia sudah sampai di depan pintu rumahnya.

Pada saat ini, anjing peliharaan Yang Pu tidak tahu majikannya sudah pulang, mengiranya orang asing mau masuk menyelinap ke dalam rumah, maka dari tempat gelap dia berlari keluar sambil mengonggong.

Pada saat itu juga anjing ini mengangkat kaki depannya gerakannya bagaikan ingin menerkam Yang Pu.

Yang Pu yang sedang asyik melamun tiba-tiba hendak diterkam oleh anjingnya sendiri menjadi sangat terkejut dan marah, dia lalu menghentikan langkahnya dan menghindar dari anjingnya.

Dengan marah dia membentak anjingnya “Sudah butakah engkau? Tidak bisa mengenal saya!”

Akhirnya tangannya meraih sebatang kayu yang berada di dekat pintu rumahnya ingin memukul anjingnya.

Pada saat ini Yang Zhu yang mendengar suara ribut-ribut keluar dari rumah. Dia melihat dan melarang Yang Pu memukul anjingnya.

Sambil menenangkan anjingnya yang sedang menyalak hebat, Yang ZHu lalu berkata pada adiknya,

”Engkau jangan memukulnya! Coba kau pikirkan, ketika siang hari engkau memakai baju putih keluar rumah, sudah begini malam engkau pulang memakai baju hitam, jika engkau sendiri! Dapatkah engkau membedakannya? Apalagi dia hanya seekor anjing, mana boleh menyalahkannya?”

Yang Pu tidak bisa berkata apapun lagi, dengan tenang dia berpikir sejenak, apa yang dikatakan kakaknya, Yang Zhu benar juga, anjingnya juga sudah tidak menyalak lagi. Mereka kembali masuk ke dalam rumah dengan tenang.

RENUNGAN:
Cerita ini mengajarkan kepada kita, setiap hal atau kejadian yang menimpa diri kita sendiri kita harus cari sebab akibatnya, dengan demikian banyak masalah yang dapat kita pecahkan, maka segala kesalahpahaman dan kesusahan dapat diselesaikan dengan baik.

Silsilah Marga dan Nama Orang Tionghoa


Marga orang Tionghoa muncul pada masa masyarakat matriarkal. Pada masa itu, orang membentuk klan-klan dengan ibu sebagai intinya. Untuk saling membedakan, dipakailah marga untuk sebutan masing-masing klan.

Asal-usul marga, kira-kira ada beberapa macam:

1. Masyarakat matriarkal menggunakan nama ibu sebagai marga. Maka banyak marga kuno memakai nǚ (女, perempuan) sebagai elemen hurufnya. Misalkan: 姜(jiang), 姚(yao), 姬(ji). Bahkan kata “marga”(姓) itu sendiri terdiri dari 女 dan 生.

2. Marga berasal dari binatang yang disembah orang zaman dulu. Misal: 马(ma, kuda), 牛(niu, sapi), 羊(yang, kambing), 龙(long, naga).

3. Marga dari negara leluhur. Misal: 赵(Zhao), 宋(Song), 秦(Qin), 吴(Wu).

4. Marga berasal dari nama gelar leluhur. Misal: 司马(Sima), 司徒(Situ), yang merupakan nama gelar zaman dulu.

5. Marga berasal dari kedudukan leluhur. Misal: 王(pangeran), 侯(marquis).

6. Posisi dan keadaan tempat tinggal sebagai marga. Misal: 东郭(tembok timur), 西门(gerbang barat), 池(kolam), 柳(willow).

7. Pekerjaan sebagai marga. Misal: pembuat tembikar bermarga 陶(tao, tembikar).

8. Menggunakan nama leluhur sebagai marga. Misal: leluhur bangsa Tiongkok, Huangdi, bernama Xuanyuan, maka akhirnya Xuanyuan menjadi sebuah marga.

Marga orang Tionghoa ada yang terdiri dari satu huruf, juga ada yang dua huruf dan lebih dari dua huruf. Ada berapa jumlah marga di Tiongkok, sampai sekarang belum bisa dipastikan. Pada dinasti Song, ada seorang terpelajar menulis sebuah buku “Bai jia xing”, di dalamnya terdaftar 500 lebih marga, 60 di antaranya adalah marga dengan gabungan huruf. Lembaga Riset Genetika dan Perkembangan Biologis di Akademi Sains Tiongkok setelah bertahun-tahun mengumpulkan data dan melakukan riset, akhirnya menemukan bahwa Tiongkok dari zaman kuno hingga zaman sekarang, telah ada lebih dari 22000 marga. Ini adalah catatan penghitungan marga orang Tionghoa dengan jumlah paling banyak. Saat ini, marga yang digunakan oleh orang Tionghoa kira-kira ada 3500. Di antaranya, ada 100 yang sering ditemui, dan tiga marga paling banyak adalah 李(li), 王(wang), 张(zhang). Marga dengan huruf gabungan paling banyak adalah 诸葛(zhuge), 欧阳(ouyang), 司徒(situ), 司马(sima).

Nama orang Tionghoa memiliki tradisi dan karakteristiknya sendiri. Nama lengkap orang Tionghoa selalu terdiri dari marga di depan, nama di belakang. Nama ada yang satu huruf, juga ada yang dua huruf. Orang di dalam suatu keluarga, namanya harus mengikuti urutan senioritas. Orang dengan derajat senioritas sama, sering kali harus menggunakan satu huruf yang sama. Nama orang kuno lebih rumit dari orang modern. Orang yang terpelajar dan berkedudukan, kecuali marga dan nama, ia juga memiliki zi(style name) dan hao(nama alternatif). Misalkan: Sastrawan dinasti Song, Sushi, bermarga Su, bernama Shi. Ia memiliki style name Zizhan, nama alternatif Dongpo. Penyair dinasti Tang, Libai, pada masa kecilnya tinggal di desa Qinglian di Sichuan. Dia memberi nama alternatif pada diri sendiri “Qinglian jushi”.

Nama orang Tionghoa sering memiliki arti tertentu, menunjukkan harapan tertentu. Ada yang namanya mengandung tempat, waktu maupun gejala alam saat orang itu lahir, misal: “Jing”(Beijing), “Chen”(pagi), “Dong”(musim dingin), “Xue”(salju). Ada yang namanya berartikan harapan dan moral tertentu, misal: “Zhong”(kesetiaan), “Yi”(keadilan), “Li”(tata krama), “Xin”(kepercayaan). Ada yang namanya mengandung harapan kesehatan, panjang umur, bahagia, misal: “Jian”(sehat), “Shou”(panjang umur), “Song”(pinus, mewakili panjang umur), “Fu”(bahagia). Nama laki-laki dan perempuan juga tidak sama. Nama laki-laki kebanyakan memiliki arti kekuatan, keberanian dan wibawa, misal: “Hu”(harimau), “Long”(naga), “Xiong”(keagungan), “Wei”(kecemerlangan), “Gang”(keras), “Qiang”(kuat). Nama perempuan kebanyakan memiliki arti kelembutan dan kecantikan, misal: “Feng”(phoenix), “Hua”(bunga), “Yu”(giok), “Cai”(warna), “Juan”(anggun), “Jing”(ketenangan).

Sekarang, orang Tionghoa tidak lagi begitu memperhatikan nama seperti orang kuno. Biasanya hanya ada nama kecil, nama resmi. Nama juga tidak harus mengikuti urutan senioritas lagi.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Jumat, 30 November 2012

Kisah Raja Sun - Raja Berbakti yang Menggugah “Langit dan Bumi”


Dalam sejarah kebudayaan tiongkok, jaman raja yang berbudi luhur dan bijaksana, seperti Raja Yao, Raja Sun dan Raja Ie menjadi cerita yang sangat terkenal dan tercatat dalam s
ejarah, karena Raja-Raja Agung itu begitu memperhatikan rakyat jelata dan mengatur negara dengan demikian baiknya, terutama memberikan suri teladan melalui sikap perbuatannya yang mulia.

Salah satu Raja bijaksana itu adalah Raja Sun yang terkenal dengan Maha Baktinya. Ayahnya bernama Ku Sou. Meskipun Sun terlahir sama dengan anak- anak lainnya, tetapi dia membawa satu kelainan, yaitu memiliki 2 titik ditengah- tengah biji hitam matanya.

Sun bernasib kurang baik, karena ibunya meninggal dunia tidak lama setelah melahirkannya, Ayahnya pun menikah lagi, tapi memang malang si Sun kecil, karena ayahnya seorang yang kurang perhatian dan sembrono, sehingga orang-orang desa menjulukinya sebagai ”orang buta”, artinya seolah-olah tidak melihat kejadian di sekelilingnya. Dan Sun sepeninggal ibunya sering mendapatkan kemarahan dan pukulan dari sang ayah tapi Sun tetap hormat dan patuh padanya, demikianlah nasib malang Sun, karena ibu tirinya tidak sayang dan malahan bersikap kejam padanya. Ibu tiri sering menyalahkan dan memfitnah Sun yang baik hati dan lugu itu sehingga membuat sang ayah yang pun ikut memarahi dan menghukumnya dengan pukulan-pukulan yang terkadang membuat badannya luka dan memar, hingga dikurung dalam kamar, tidak diberi makan dan minum. Lalu Sun pun berpikir ”ayah sudah agak tua, badannya mulai lemah dan ibu seorang wanita yang tidak sesuai untuk pekerjaan kasar, kalau saya meninggalkan mereka, siapa yang membantu bercocok tanam di ladang? Dan akhirnya Sun memilih tidak meninggalkan ayah dan ibu tirinya, meski menyadari betul bakal menemui banyak penderitaan dari orang tua, terutama ibu tirinya.

Tidak lama kemudian, ibu tirinya melahirkan seorang anak laki-laki, yang diberi nama Cuo Siang. Setelah memiliki anak kandung sendiri, ibu tiri tetap saja tidak merubah sikapnya terhadap Sun dan malahan sesudah Cuo Siang mulai agak dewasa, makin bertambah penderitaan Sun, karena adik tiri ini juga bersikap suka mempermainkan dan menghinanya. Meskipun mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang dari ibu tirinya, juga ayahnya yang seakan-akan tidak memperdulikan, Sun tetap bersikap hormat dan berusaha melayani kedua orang tuanya dan juga tidak benci pada adik tirinya.

Melalui beberapa kali usaha dari ibu dan adik tirinya yang mencoba mencelakakannya, Sun akhirnya menghindar sebentar dan mengungsi kekaki gunung Li dan bercocok tanam disana, Karena sifatnya yang luhur dan sikap bakti pada orang tuanya yang sedemikian besar, meskipun mendapatkan perlakuan sebaliknya dan ditambah perbuatan jahat dari adik tirinya, Sun masih tetap tidak berubah dan membalas dengan kebaikan. Maka dikatakan hawa kemuliaan yang demikian seolah-olah menembus Langit dan Bumi.

Saat Sun di sawah, tidak sangka banyak yang datang bersahabat dengannya dan malahan membantunya. Ada gajah besar yang muncul dan bersahabat dengannya, dengan belalainya membantu menebarkan bibit-bibit, begitu juga para petani di kaki gunuang Li secara sukarela membantunya.

Saat itu Raja Yao yang memimpin negeri itu sudah hampir 70 tahun lamanya merasa sudah waktunya menyerahkan kedudukan Raja kepada penerus selanjutnya. Raja Yao adalah Raja yang amat bijaksana, dia tidak langsung mewariskan tahta kepada anak- anaknya karena ia menginginkan seseorang yang benar-benar mempunyai kemampuan mengatur negara dan juga mempunyai kebajikan yang besar sedangkan anak-anaknya sendiri disadarinya kurang memenuhi persyaratan itu, lalu Raja Yao mengumpulkan pejabatnya untuk di pilih menjadi penggantinya namun para pejabat mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan seperti itu, maka Raja Yao berkata, “kalau memang kalian semua begitu merendah, mengatakan tidak memenuhi syarat, coba carikan seorang yang benar-benar mempunyai kemampuan dan kebajikan untuk mengatur negeri ini”, demikian Raja Yao meminta para pejabat dan orang-orang sekelilingnya untuk mencari orang yang dapat menggantikannya.

Para pejabat akhirnya bersepakat mengusulkan, kami dengar ada seorang yang bernama Sun, meskipun ibu dan adik tirinya jahat terhadapnya, tapi dia tidak benci dan dendam malahan bersikap baik terhadap adik dan begitu berbakti pada ayah ibunya, orang yang demikian bisa memikul tanggung jawab besar karena mempunya jiwa besar. Raja Yao sesudah mendengar itu, memutuskan untuk mengirim orang menyelidiki kebenarannya. Sesudah memastikan bahwa Sun benar-benar seorang yang berkebajikan, maka Raja Yao menikahkan dua orang putrinya yaitu E Huang dan Ni Ing menjadi Isteri Sun dan bahkan juga mengutus 9 putranya untuk membantu Sun sambil terus menyelidiki kemampuan Sun.

Semua orang desa begitu senang mendengar Sun mendapatkan kepercayaan dan tugas dari Raja, tetapi hanya ibu dan adik tirinya yang jahat merasa sangat tidak senang dan iri hati. Mereka berdua kemudian merencanakan muslihat untuk mencelakakan Sun. Suatu hari, Sang ibu tiri memanggil Sun, “atap dari gudang rusak, cobalah di perbaiki”. Meskipun Sun sekarang mempunyai kedudukan dan beristerikan putri raja, tapi karena rasa baktinya yang besar dia tidak menolak kemauan ibu tirinya tersebut.

Sebelum memperbaiki atap bocor, Sun memberitahukan hal ini kepada isterinya dan isterinya berpikir bahwa ini pasti siasat jahat untuk mencelakakan Sun, maka sang istri memberikan sepasang caping yang besar dan lebar sebagai persiapan, saat Sun sedang berada di atas atap memperbaiki atap, adik tirinya dengan diam-diam menyulut api disekeliling gudang dan sebelumnya sudah mengangkat pergi tangga yang dipakai Sun, kebakaran besar pun terjadi, saat lidah api mulai menjilat ke atap tempat Sun sedang bekerja, Sun kebingungan. Dalam keadaan kritis dia teringat 2 caping besar yang dibekali istrinya, dan segeralah melompat turun dengan dua caping besar yang diikatkan pada sepasang tangannya, sehingga kedua caping menahan laju jatuhnya, akhirnya ia hanya luka-luka ringan saja.

Adik dan ibu tirinya yang jahat begitu mengetahui Sun selamat, merasa tambah benci dan segera merencanakan kejahatan lain untuk mencelakakan Sun lagi, Sun pun dipanggil kembali, ”sumur di rumah tertimbun banyak batu- batuan, Ayo diangkat dan digali lebih dalam lagi”, ujar sang ibu tiri. Maka Sun kembali dengan patuh mau mengerjakan pesan ibunya, tetapi sebelum pergi sang istri yang bijaksana kembali menyadari rencana jahat ini dan membekali Sun dengan satu kapak besar dan berpesan,begitu masuk kedalam sumur, cepat-cepat menggali sebuah lubang disamping sumur kering itu dan ketika adik tiri tidak melihatnya dan mengira Sun sedang giat –giatnya menggali sumur, beberapa saat kemudian adik tirinya melemparkan batu-batuan kedalam sumur, dengan harapan mengubur hidup-hidup kakak tirinya yang baik hati lalu ia segera melaporkan kemenangan ini kepada ibunya.

Sun benar-benar seorang yang berkebajikan sehingga Dewa dan Malaikat pun selalu melindungi, karena saat adik tirinya menumpahkan batuan kedalam sumur, pada saat itu lubang disamping sumur selesai digali dan ia buru-buru masuk kedalalm lubang itu untuk berlindung. Bebatuan itu tidak mengenai dirinya dan dia selamat dari kecelakaan yang direncanakan itu, meski demikian Sun tetap tidak membenci atau membalas dendam pada ibu dan adik tirinya.

Beberapa kali saat Raja Yao memberikan tugas kenegaraan kepadanya, Sun yang arif dan berhati mulia selalu dapat mengemban tugas demi tugas dengan baik dan akhirnya Raja Yao mewariskan kedudukan Raja kepada Sun, Sun yang sudah menjadi Raja tetap menghormati dan bakti pada ayah dan ibu tirinya begitu juga dengan adik tirinya , karena kebajikan Sun ini sehingga akhirnya membuat ibu dan adik tiri yang tadinya berhati licik dan jahat menjadi menyesal dan bertobat, Sun memerintah negara dan rakyat dengan amat baiknya, sehingga negara makmur rakyat bahagia. Raja Sun sendiri akhirnya terkenal sebagai salah satu dari Raja- Raja bijaksana yang tersohor didalam sejarah Tiongkok dan juga mendapat julukan “ Raja Sun yang maha bakti”.

Demikianlah kemuliaan seorang anak manusia yang hidup penuh kasih, berbakti pada kedua orang tua, berjiwa besar dan luas bagai samudera, tidak memikirkan diri sendiri dan selalu ingin membahagiakan orang lain hingga akhirnya menjadi Raja yang sangat penuh kasih dan berkebajikan.